“Sekedar informasi bagi temen-temen bahwa terhitung mulai nanti malam (Sabtu malam Minggu, 1 November 2025) wisatawan tidak diperkenankan turun ke dasar kawah dan sudah ada penutupan jalan yang dilakukan oleh teknisi tambang. Demikian hal yang perlu saya sampaikan dan atas perhatiannya saya ucapkan banyak-banyak terimakasih.”
Pemberitahuan singkat tersebut berasal dari operator penambangan PT Candi Ngrimbi dan beredar luas di kalangan guide dan wisatawan yang biasa menikmati keindahan Blue Fire Kawah Ijen. Tentu hal itu sangat mengejutkan, sementara pihak BKSDA (Balai Konservasi Sumber Daya Alam) seolah tak berdaya dan tak bisa berbuat apa-apa. Tentunya berpotensi sebagai ancaman terhadap kepariwisataan Banyuwangi akan alami kelesuan.
Perlu dicatat bahwa Candi Ngrimbi awalnya memperoleh hak eksplorasi belerang di Kawah Ijen sejak tahun 1970. Lalu pada tahun 1968, swbagai awal dilakukannya penambangan belerang oleh penambang dari Malang dan Tretes, di mana belerang dijual ke Koperasi Raksa.
Pada tahun 1970 pula, CV Argomulyo di Desa Tamansari Licin Banyuwangi mulai bergerak di bidang penambangan belerang. Maka Candi Ngrimbi pun mulai bergerak cepat melakukan penambangan belerang di Kawah Ijen hingga saat ini.

Namun yang menarik adalah, sesuai informasi yang berhasil dihimpun bahwa dengan adanya atraksi blue fire sebenarnya para penambang tidak mendapatkan apa-apa dan konon tak ada manfaatnya. Sehingga akses menuju area penambangan belerang kini ditutup.
“Mereka berangapan, kalau ada Blue Fire hasil belerangnya hanya sedikit. Sehingga perusahaan penambang yang dirugikan. Akan tetapi jika tak ada Blue Fire maka yang merugi adalah BKSDA. Karena wisatawan yang berkunjung menurun. Nah hal inilah yang akhirnya memantik konflik kepentingan,” ungkap seorang guide yang enggan disebutkan namanya.
Dengan terjadinya konflik kepentingan antara Candi Ngrimbi selaku penambang belerang di Kawah Ijen dengan pihak BKSDA, dampaknya luar biasa. Blue Fire menghilang dan para wisatawan pun dilarang turun ke bawah seputar area Kawah Ijen.
“Yang memprihatinkan Blue Fire telah mati total sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Karena mereka beralasan ada perbaikan pipa. Jujur kami sangat kecewa sekali. Kami para guide menjadi pusing, bagaimana cara menjelaskan kepada wisatawan, terutama wisatawan dari mancanegara terkait dengan tidak adanya Blue Fire tersebut,” katanya sambil mengelus-elus kepalanya. (Tim Dhuta Ekspresi)









