Bupati Banyuwangi Melepas Ikon Ijen Ke Bondowoso, Mengundang Kontroversi

Ikon Ijen yang memiliki keindahan panorama dan blue fire sebagai kebanggaan masyarakat Banyuwangi akan hilang. Karena Bupati Ipuk Fiestiandani Azwar Anas telah menandatangani Berita Acara Kesepakatan tentang batas-batas wilayah gunung Ijen antara Kabupaten Banyuwangi dengan Kabupaten Bondowoso

M Yunus: Ini Kebodohan Yang Luar Biasa

BANYUWANGI: Kebijakan Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani Azwar Anas dengan menandatangani Berita Acara Kesepakatan (BAK) Nomor: 35/BAD II)VI/2021 tertanggal 3 Juni 2021 tentang batas-batas wilayah Gunung Ijen antara Kabupaten Banyuwangi dengan Kabupaten Bondowoso, mengundang kontroversi. Karena dinilai berbagai kalangan sebagai langkah yang ceroboh dan merugikan Banyuwangi. Sehingga wajar jika memantik reaksi keras masyarakat serta aktivis Banyuwangi. Salah satunya reaksi dari “Aliansi Masyarakat Banyuwangi Peduli Ijen (AMBPI)” yang pernyataan sikapnya dituangkan dalam video berdurasi 3.38.

Read More

AlIANSI tersebut merupakan jelmaan pembauran dari 8 LSM vokal yang ada di Banyuwangi. Di antaranya adalah, KPJ Laskar Putih, LSM Forbi, LSM Godeba, LSM Forsuba, Pemuda Pancasila dan beberapa LSM lainnya. Sebagai pangakh serius, kedelapan LSM tersebut telah melakukan pertemuan yang secara khusus mensikapi kebijakan Bupati Ipuk Fiestiandani Azwar Anas yang dinilai merugikan Banyuwangi.

Koordinator AMBPI, M Yunus Wahyudi menuding apa yang diperbuat Bupati Ipuk terlalu dini sekali serta pikirannya terlalu pendek. Dikatakannya penandatanganan yang dilakukan Bupati Ipuk tentang kesepakatan batas-batas wilayah gunung Ijen antara kabupaten Banyuwangi dengan Kabupaten Bondowoso sebagai langkah yang bodoh.

M Yunus Wahyudi bersama perwakilan 8 LSM yang membaur ke dalam “Aliansi Masyarakat Banyuwangi Peduli Ijen (AMBPI) sepakat mensikapi Kebijakan Bupati Ipuk Fiestiandani Azwar Anas Yang Hendak melepas ikon Ijen ke Kabupaten Bondowoso

“Ini bentuk nyata kebodohan Bupati (Ipuk Fiestiandani Azwar Anas, red ) menandatangani kesepakatan tersebut. Atau di balik itu ada bisnis politik yang telah mereka konsepkan dengan baik. Ini pasti ada pembisik-pembisiknya. Ini pasti juga di belakang ada para cukong yang membiayai ataupun kepentingan lainnya. Sehingga Bupati Ipuk yang baru 4 bulan bertugas ini dengan tiba-tiba menandatangani kesepakatan di Jawa Timur. Katanya terhipnotis. Ini impossible. Omong kosong!,” tandas Yunus Ketua KPJ Laskar Putih itu dengan suara lantang.

Yang mengherankan, lanjut Yunus, ketika masyarakat dan para aktivis memprotes dan menekan tentang penandatanganan kesepakatan tersebut, dengan serta merta Bupati Ipuk menandatangani surat pencabutan. “Ini lebih luar biasa lagi kebodohannya. Pencabutan itu kannharus ada penetapan pengadilan. Tidak serta merta seperti itu,” ungkapnya.

Pria yang dikenal sebagai sang singa Blambangan itu mempertanyakan, apakah sebelum tandatangan tidak musyawarah dulu dengan DPRD, Bagian Hukum atau BPKAD. Karena BPKAD yang mengerti soal aset-aset ataupun batas-batas wilayah kepemilikan di wilayah kabupaten Banyuwangi.

“Tapi anehnya, mengapa Bupati Ipuk tiba-tiba menandatangani (Kesepakatan batas wilayah gunung Ijen, red )? Ini ada apa? Apa diperintah mantan bupati suaminya (H Abdullah Azwar Anas, red ) itu dengan pembisikan yang kotor? Karena mungkin ada kepentingan Saham-saham kepada cukong,” tanya Yunus seraya berupaya menyelidik.

Simak juga sekilas keindahan panorama gunung Ijen pada tautan di bawah ini:

Yunus mengajak untuk berpikir secara jernih dan meminta agar tidak membodoh-bodohi masyarakat Banyuwangi. Apalagi sudah dua periode suaminya bupati Ipuk yakni H Abdullah Azwar Anas melakukan pencitraan. Oleh karenanya jangan melepaskan gunung Ijen begitu saja kepada kabupaten Bondowoso.

“Ijen ini dengan memamerkan potensi wisatanya membutuhkan ratusan miliar untuk promosi. Anak-anak sekolah yang sedang asyik disuruh keluar. Ratusan miliar dibuang begitu saja. Diberikan dengan tanda tangan. Nah sungguh ini suatu kebodohan yang luar biasa. Pikirkan saat suami anda dua periode memimpin Banyuwangi ini dengan memamerkan wisata Ijen ke semua mancanegara!,” tegas Yunus secara berterus terang.

Dalam pandangan Yunus, Ijen itu mahal. Apalagi menurutnya, blue fire atau api biru di dunia hanya ada dua di dunia. Pertama adanya di negara Islandia, lalu kedua di Indonesia tepatnya di gunung Ijen Banyuwangi. Itulah sebabnya, ia bersama Aliansi Masyarakat Banyuwangi Peduli Ijen tak rela jika Ijen dilepas begitu saja dan diberikan kepada Bondowoso.

Blue fire atau api biru hanya ada dua tempat di dunia. Yakni di negara Islandia dan di Indonesia, tepatnya di gunung Ijen Banyuwangi. Namun sayangnya blue fire tersebut akan hilang dari ikon-nya Banyuwangi. Karena akan diserahkan ke Bondowoso

“Jangan membuat kebodohan lagi. Juga jangan menganggap DPRD Banyuwangi itu bodoh, “disapi-ompongkan” seperti dulu. DPRD harus harus bangkit, harus protes serta harus meminta lagi untuk mengambil hak-haknya. Jangan seenaknya DPRD diam begitu saja. Ayo DPRD gerak. Jangan diam. Ingat anda semua dipilih dan dibayar oleh rakyat. Ijen ini milik dan kebanggaan warga Banyuwangi,” seru Yunus berapi-api.

Yunus beserta pihaknya meminta, jangan sampai orang-orang yang sudah lama bekerja disana, seperti tukang belerang, pemilik warung maupun Fenomena blue fire-nya diberikan kepada Bondowoso. Pihaknya berjanji akan terus berjuang guna mempertahankan sampai kapanpun.

“Kami akan melakukan gerakan besar-besaran jika sampai Ijen dilepas dan diserahkan kepada Bondowoso. Karena Ijen merupakan haknya rakyat Banyuwangi,” pungkasnya. (Tim Dhuta Ekspresi)

Simak juga upaya langkah nyata nguri-nguri budaya warisan para leluhur melalui “Petualangan Wisata Mistis”, hanya di YouTube LSAP Banyuwangi Channel dibawah ini:

banner 728x90

Related posts

banner 400x130

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *