BANYUWANGI: Sejarah Blambangan Banyuwangi memang tak dapat dipisahkan dengan kerajaan Macan Putih yang didirikan oleh Prabu Tawang Alun pada tahun 1667. Menurut berbagai literatur sejarah, Keraton kerajaan Macan Putih dibangun di atas tanah seluas kurang lebih 4,5 kilometer. Sedangkan sekelilingnya dibangun tembok tembok setinggi kurang lebih 7 kaki dan lebar 2,5 meter yang nyaris menyerupai tembok Cina.
Pusat kerajaan Macan Putih tersebut kini telah menjelma sebagai “Desa Macan Putih” masuk Kecamatan Kabat Banyuwangi – Jawa Timur. Bahkan puing-puing peninggalan sejarahnya, naik berupa batu bata merah sebagian besar ada yang masih terpendam dan sebagian lagi berserakan dimana-mana. Di samping itu beragam perhiasan kerabat keraton di masa lalu, kerap ditemukan tak sengaja oleh warga setempat ketika sedang menggali tanah.
Kepala Desa Macan Putih, Mohammad Farid menandaskan, pihaknya ingin mengingatkan kepada masyarakat luas bahwa nama Desa Macan Putih merupakan penggalan episode sejarah dari kerajaan Macan Putih. Oleh karenanya antara nama Desa Macan Putih dengan kerajaan Macan Putih merupakan satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan.
“Di masa lalu, kerajaan Macan Putih yang wilayah kekuasaannya meliputi kabupaten Banyuwangi, Situbondo, Bondowoso, Probolinggo, Jember, Lumajang hingga Pasuruan pernah mengalami masa kejayaannya. Dimana kala itu, kerajaan Macan Putih bukan hanya mengalami masa keemasannya namun juga sangat disegani oleh kerajaan-kerajaan lainnya,” ungkap Farid kepada Dhuta Ekspresi di sela-sela kesibukannya.
Masa kejayaan Kerajaan Macan tersebut, lanjut Farid, tidak boleh hilang begitu saja hingga terlupakan oleh sejarah serta masyarakat Banyuwangi pada umumnya. Jautru ia mwngaja semua pihak untuk senantiasa menteladani apa yang telah dilakukan oleh Prabu Tawang Alun yang membawa kerajaan Macan Putih menuju masa keemasannya.

“Bagi kami justru masa kejayaan Macan Putih di masa lalu itu akan menjadi inspirasi bagi kami untuk konsentrasi merumuskan pembangunan di berbagai bidang. Kami telah membentuk tim untuk menginventarisasi sisa-sisa peninggalan kerajaan Macan Putih yang masih bisa ditemukan. Di antaranya seperti puing-puing pagar tembok yang dulunya membentang mengelilingi sepanjang keraton Macan Putih,” urai yang berpenampilan kalem itu.
Ditambahkannya, Farid mengaku sudah menemukan beberapa titik penting peninggalan sejarah kerajaan Macan Putih. Utamanya puing-puing tembok yang masih terpendam di sepanjang pinggiran aliran sungai. “Kami ingin membuat semacam miniatur pagar tembok keraton Macan Putih tersebut sebagai penanda sejarah yang tak boleh dilupakan oleh siapapun,” teganya. (Anton Budi Hartono/Dhuta Ekspresi)
Simak juga upaya langkah nyata guna nguri-nguri budaya warisan para leluhur melalui “Petualangan Wisata Mistis”, hanya di YouTube LSAP Banyuwangi Channel dibawah ini:









