Ruang Rembug Anak Banyuwangi Jadi Wadah Aspirasi Kalangan Pelajar

Tampak para pelajar Banyuwangi dalam acara Ruang Rembug Anak Untuk Menjaring Aspirasi

Langkah strategis telah dilakukan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyuwangi dengan membuka ruang partisipasi bagi generasi muda. Yakni melalui sebuah ruang khusus Rembug Anak 2026. Hal itu sebagai wadah untuk menyampaikan aspirasi, gagasan, dan harapan terkait pelestarian lingkungan serta pemenuhan hak anak di Banyuwangi.

Dengan mengusung tema “Anak Beraksi, Lingkungan Lestari, Hak Anak Terpenuhi”, bertempat kawasan wisata Pantai Pulau Santen Banyuwangi (23/7/2026), diikuti sebanyak 50 pelajar SMP dan SMA dari berbagai wilayah, termasuk siswa sekolah luar biasa (SLB).

Read More

Dalam kegiatan tersebut, para peserta berdiskusi mengenai berbagai isu lingkungan, mulai dari pengelolaan sampah, pengurangan plastik sekali pakai. Selain itu juga tentang penghijauan, pelestarian sumber daya air, hingga pentingnya pendidikan lingkungan sejak dini susah dilakukannya.

Menurut Dr. Suyanto Waspo Tondo Wicaksono, M.Si selalu Sekda Banyuwangi mengungkapkan, bahwa Rembug Anak diselenggarakan setiap tahun merupakan bentuk komitmen pemerintah daerah untuk mendengar langsung suara anak-anak sebelum merumuskan berbagai kebijakan yang akan dilakukan oleh Pemda Banyuwangi.

“Jadi apa yang menjadi keinginan, harapan, maupun keresahan kalian, silakan sampaikan saja. Semua masukan akan kami dengarkan, kami catat, dan menjadi bahan pertimbangan dalam pengambilan kebijakan ke depan nantinya,” jelas pria yang akrab disapa Yayan itu.

Reyhan Iftitan Ramadhanu, pelajar SMA Muhammadiyah 2 Genteng bersama kelompoknya mengusulkan pembentukan Green Ranger. Yakni duta kebersihan yang melibatkan pelajar di sekolah sekaligus masyarakat di tingkat desa dan kelurahan di Kabupaten Banyuwangi.

“Dari kelompok kami mengusulkan Green Ranger untuk mengajak masyarakat lebih peduli terhadap lingkungan melalui sosialisasi dan aksi nyata di lapangan,” Ungkapnya. .

Sedangkan Thalita Elok Safitri dari MAN 1 Banyuwangi mengusulkan agar edukasi pengelolaan sampah tidak hanya menyasar sekolah, tetapi juga kelompok PKK serentak di Banyuwangi.

“Masalahnya kalau ibu-ibu PKK diberi pelatihan memilah dan mendaur ulang sampah menjadi barang bernilai ekonomi. Kami yakin mereka akan tertarik karena sekaligus bisa penghasilan keluarga sebagai tambahan,” tandasnya.

Kampanye lingkungan menurutnya juga perlu memanfaatkan media sosial dan videotron agar lebih dekat dengan generasi muda. Di samping itu untuk menjangkau masyarakat yang lebih luas. Ia juga mengusulkan adanya pemantauan hingga tingkat desa untuk memastikan pengelolaan sampah berjalan optimal dan berkelanjutan.

Begitu juga dengan Hafis Maulana Akbar dari SMP Negeri 4 Banyuwangi, pihaknya berharap pemerintah memberikan sanksi tegas terhadap pelaku penebangan pohon secara liar dan sembarangan.

“Kami mempunyai alasan bahwa pohon sangat bermanfaat untuk menjaga kualitas udara, mencegah banjir, dan menyimpan cadangan air. Karena itu tidak boleh ada yang menebangnya sembarangan di tempat-tempat strategis,” tegasnya.

Pemerintah Kabupaten Banyuwangi berharap, melalui Rembug tersebut berbagai gagasan yang disampaikan peserta tidak berhenti sebagai bahan diskusi. Akan tetapi menjadi bagian dari proses penyusunan kebijakan daerah. Anak-anak dipandang tidak hanya sebagai penerima manfaat pembangunan, melainkan juga mitra strategis dalam merancang masa depan Banyuwangi.

“Kami berterima kasih dan merasa bangga dengan anak-anak tadi. Mereka sangat antusias menyampaikan ide-idenya terkait lingkungan dan pengelolaan sampah yang memang menjadi isu global saat ini”, pungkasnya. (*)

 

banner 728x90

Related posts

banner 400x130

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *