“SEBUAH CATATAN KAKI”
Oleh: Denny Sun’anudin
“Niat mulia Kapolresta Banyuwangi, Kombes Pol Rama Samtama Putra menggelar Penganugerahan Apresiasi dan Tali Asih terhadap 70 Seniman Tua, bukan sekadar acara biasa. Mengingat Kapolresta Rama juga berobsesi ingin menjelmakan Kepolisian Republik Indonesia sebagai sisi lain dalam nuansa humanis di tengah masyarakat“
Di benak sebagian besar kalangan, -utamanya di tengah masyarakat-, tentu bergelayut beragam pertanyaan liar tergoda oleh rasa keingintahuan. Diantaranya, mengapa Kapolresta Banyuwangi, Kombes Pol Rama Samtama Putra menaruh kepedulian terhadap kalangan seniman? Apa korelasinya antara tupoksi kepolisian dengan dunia seni? Atau mungkin terselip pertanyaan-pertanyaan lainnya yang tersembunyikan.
Beragam pertanyaan-pertanyaan tersebut niscaya akan terjawab dengan sendirinya seusai menelaah seksama uraian-uraian berikut ini. Secara kebetulan penulis terlibat secara langsung dalam awal perumusan konsep penganugerahan apresiasi dan tali asih terhadap kalangan Seniman yang dilaksanakan pada hari Selasa, 25 Maret 2025 pukul 15.00 WIB di gedung utama studio One Nada Jl. Raya Cluring Cempokosari Banyuwangi.
Jadi begini ikhwalnya. Setelah rampungnya Buka Bersama dan Santunan Ramadhan di Kampung Alpukat Desa Parangharjo Songgon Banyuwangi, Sabtu (8/3/2025) duduk bersantai sembari ngopi dan obrolan tipis-tipis. Dalam satu meja yang saling berhadapan ada Kapolresta Banyuwangi, Kombes Pol Rama Samtama Putra, ownernya Seblangdotcom, Erwin Yudianto, Hostnya Seblangdotcom, Denny Sun’anudin, Kasat Narkoba, AKP Nanang Sugiyono, Kasat Lantas, Kompol Elang Prasetyo, Kapolsek Songgon, AKP Maskur, Artis Wandra Restusiyan, lalu di meja sebelahnya ada rekan-rekan awak media dan undangan lainnya.

Tiba-tiba Kapolresta Banyuwangi, Kombes Pol Rama Samtama Putra (atas bisikan halus Erwin Yudianto) , sontak melontarkan ide dan gagasan yang mengejutkan. Yakni ingin mengadakan penganugerahan apresiasi dan tali asih kepada para seniman Banyuwangi. Namun konsepnya lebih menitikberatkan kepada seniman-seniman tua dan sudah tidak produktif lagi. Dimana kondisi kehidupannya memang benar-benar membutuhkan perhatian.
“Bagaimanapun mereka (para Seniman, red.) pernah berjasa melalui karya-karya emasnya turut mengharumkan nama Banyuwangi. Maka tak ada salahnya jika kami dari Kepolisian RI memberikan apresiasi, sekaligus memberikan sentuhan nuansa yang humanis di tengah masyarakat.” Begitulah salah satu penggalan penuturan Kapolresta Rama yang selalu terngiang.
Dalam konsepsi “Cipta, Rasa dan Karsa”, meniscayakan seseorang yang sudah mencapai tataran kesadaran Ngaji Roso-nya untuk mengejawantahkan secara realitas. Sebagai penjelmaannya, selalu trenyuh dalam keprihatinan, gempita dalam keterpanggilan untuk berbagi, serta hasratnya yang berkehendak menuju sebuah tatanan peradaban yang bernuansa humanis.
Seuntai kalimat tersebut bermakna universal, artinya berlaku bagi siapapun baik pribadi seseorang maupun institusi tertentu yang menginginkan adanya perubahan yang lebih baik. Maka tak mengherankan jika dalam Rapim Polri tahun 2025, Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit memberikan penegasan kepada jajarannya tentang pentingnya ketulusan, kerja keras, dan sinergi dalam menjalankan tugas kepolisian.
Secara harfiah, tugas-tugas kepolisian kini dihadapkan pada pertaruhan antara Presisi dengan Humanis. Dimana Presisi lebih terdogma pada tingkat ketepatan atau ketelitian suatu pengukuran, pernyataan atau tindakan. Sedangkan Humanis senantiasa bersentuhan langsung pada upaya seseorang yang menjunjung tinggi nilai dan martabat manusia.
Dengan demikian, apa yang dilakukan oleh Kapolresta Banyuwangi, Kombes Pol Rama Samtama Putra dengan menggelar acara apresiasi dan tali asih yang dikemas Buka Bersama Seniman tersebut dihadapkan pada dua sisi yang tak terpisahkan. Satu sisi terikat dengan amanah Presisi kepolisian, namun di sisi lain terpanggil untuk bersifat Humanis sebagai unsur kemanusiaannya. Terima kasih semoga bermanfaat. (Penulis adalah Pemerhati Budaya Daerah Banyuwangi)









