Menguak Sejarah Keteladanan Habib Achmad Bin Agil Baabud (Bagian 01)
BANYUWANGI: Momentum peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan Haul Habib Achmad Bin Agil Baabud di seputar area masjid keluarga besar keturunan Baabud di Singotrunan Banyuwangi Jawa Timur, (10/10) berlangsung penuh khidmad. Kegiatan bernuansa keagamaan yang dihadiri undangan dari Banyuwangi dan luar Banyuwangi tersebut, juga menghadirkan Habib Sayyid Husein Bin Abdullah Bin Alawy Baabud dari Sukowidi Banyuwangi dan Habib Abdullah Bin Ali Baabud dari Malang.
Ketua penyelenggara, Habib Bagir Bin Abdurahman Baabud dalam sambutannya, selain mengupas kemuliaan Nabi Muhammad SAW juga menceritakan tentang perjuangan dan keteladanan Habib Achmad Bin Agil Baabud sebagai leluhurnya. Menurutnya, selama hidupnya Habib Achmad Bin Agil Baabud senantiasa mengajarkan tentang kebaikan-kebaikan.

“Sedikit membaca biografi dari kakek kami (Habib Achmad Bin Agil Baabud, red.), sebagaimana tiap tahun ketika kita melaksanakan anjuran Baginda Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam. Yakni menyebutkan kebaikan-kebaikan orang yang sudah wafat, dengan harapan kami sebagai anak cucunya khususnya, juga panjenengan pecinta para habaib, pencinta orang-orang soleh insya Allah kita bisa meniru kebaikan-kebaikan almarhum dan bisa kita laksanakan dalam kehidupan sehari-hari. Amin amin ya robbal alamin,” ujarnya sembari mengenang kebaikan Habib Achmad Bin Agil Baabud semasa hidupnya.
Adapun asal muasal Habib Achmad Bin Agil Baabud, lanjutnya, dilahirkan di Loloan Barat Negara Bali pada tahun 1902 Masehi dan wafat pada tahun 1966 Masehi di kota Banyuwangi. Semasa hidupnya, Habib Achmad Bin Agil Baabud dikenal ketika itu sebagai seseorang yang semangat untuk menimba ilmu untuk belajar. Di antaranya, mendatangi para asakif serta guru-guru untuk menimba ilmu.
“Bahkan semasa hidupnya pula, beliau (Habib Achmad Bin Agil Baabud, red.) sangat mendukung kegiatan belajar mengajar yang ada di pondok pesantren. Adapun bentuk dukungan beliau bukan hanya sekadar komentar saja, juga bukan sekadar doa-doa saja. Tetapi dengan aksi nyata, yaitu dengan dana-dana yang beliau keluarkan untuk keperluan operasional pondok-pondok pesantren ketika itu,” ungkapnya secara gamblang di hadapan para undangan yang memadati area kegiatan tersebut.

Ditambahkannya, Habib Achmad Bin Agil Baabud dikenal di zamannya saudagar yang kaya raya. Akan tetapi kekayaannya dimanfaatkan dalam kebaikan, di antaranya untuk mendukung kegiatan belajar mengajar yang ada di pondok pesantren. Hal itu pelajaran pertama untuknya dan para cucunya serta semuanya, yang Alhamdulillah diberikan kelancaran rezeki oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
“Nah, ibadah yang paling cocok, ibadah yang paling tepat untuk orang yang diberikan kelancaran rezeki oleh Allah adalah ibadah picis (uang, red.). Sampean toleh kanan kiri ada pondok pesantren, ada orang sakit, kemudian ada anak-anak yang butuh untuk dibiayai sekolahnya. Dan ini tidak bisa dilaksanakan hanya sendiri saja, kecuali juga butuh keterlibatan orang orang yang dimudahkan, dilancarkan rezekinya oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Ayo, pelajaran kita tiru,” tandasnya seraya memberikan himbauan.
Keponakan Hj. Syarifah Banun Baabud itu menegaskan, Habib Achmad Bin Agil Baabud selain dengan hartanya memberikan ke pondok pesantren, majelis-majelis ketika itu, almarhum juga orang yang semangat menimba ilmu. Diceritakan, almarhum memiliki pengajian majelis rutin membaca kitab-kitab yang dikarang oleh Al Habib Usman Bin Yahya. Ketika itu almarhum mengaji bersama Al Habib Hadi Bin Abdullah Bin Umar.

“Al Walid Al Habib Abdurrahman, Abah saya bercerita kalau sudah Habib Hadi datang, ngaji membuka kitab muthalaah, ngaji bareng. Bahas. Beres. Bagian pulang, yang mengantarkan Abah saya. Beliau cerita sendiri kepada saya. Memang Seperti itulah jalan hidup, gaya hidup kami para habaib. Tirakatnya para habaib, di antaranya adalah belajar. Termasuk Datuk kita Habib Achmad Bin Agil Baabud bikin di rumahnya, ngaji bareng dengan habib-habib. Buka kitab,” paparnya.
Sekali lagi ia menekankan, khususnya bagi anak keturunannya, masjid sudah ada, pengajian rutin dimana-mana. Tinggal anak cucunya melanjutkan kebagusan, kebaikan dari datuk-datuknya. Menurutnya, tidak cukup hanya dengan berbangga, pamer, menceritakan ke barat ataupun ke timur.
“Buktikan kalau kita memang berada di jalur mereka. Apa yang mereka laksanakan, anak turunan paling pertama diperintah untuk menyuruh orang tuanya. Karena itu warisan. Warisan bukan hanya duit. Kadung urusan warisan picis rebutan. Orang itu berbondong-bondong. Tapi yang diwariskan orangtua-orangtua kita bukan hanya duit, tapi ilmu, pengajian, majelis taklim, yang kayaknya mulai kendor di akhir zaman seperti ini,” urai figur yang akrab disapa Amang BagirBang itu. (Tim Dhuta Ekspresi/Bersambung)
Sebuah persembahan karya film Indhie pertama di Banyuwangi, dengan mengedepankan budaya berbasis kearifan. Simak selengkapnya tautan dibawah ini:







