“Banyuwangi Rebound”, Bupati Ipuk Paparkan Ekosistem Pemulihan Ekonomi hingga Penanganan Pandemi

Suasana peluncuran "Banyuwangi Rebound" oleh Bupati Ipuk Fiestiandani

BANYUWANGI: Gerakan di basket yang melompat tinggi untuk menyambut bola pantul yang gagal masuk ring untuk kembali dilesakkan menjadi poin telah menginspirasi Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani untuk meluncurkan program “Banyuwangi Rebound” bertempat di pendopo Sabha Swagata Blambangan, Senin (10/1). Selaras rebound dalam basket, Banyuwangi akan dibawa melompat kembali di masa pandemi Covid-19 ini yang memasuki tahun ketiganya.

“Awal wabah Covid-19 mendera seluruh dunia, banyak hal kemudian meleset dari rencana awal. Ini ibarat pebasket yang gagal melesakkan bola ke ring. Di situasi seperti inilah, kita harus rebound mengambil kesempatan tersebut untuk menuntaskannya menjadi poin atau gol,” kata Ipuk.

Read More

Dalam peluncuran “Banyuwangi Rebound” tersebut dihadiri jajaran Forpimda Banyuwangi, Komandan Kodim 0825 Banyuwangi, Letkol Kav. Eko Julianto, Komandan Pangkalan AL Banyuwangi, Letkol Laut (P) Ansori, Ketua Pengadilan Negeri Banyuwangi, Nova Flury Bunda, Kepala Kejaksaan Negeri Banyuwangi, Muhammad Rawi. Juga hadir beberapa tokoh masyarakat, seperti KH Suyuti Thoha, Ketua PCNU Banyuwangi, KH Ali Makki Zaini, Ketua PD Muhammadiyah, Dr. H Mukhlis Lahuddin, Ketua LDII Banyuwangi, H Astro Djunaidi, Ketua MUI Banyuwangi, KH M Yamin, Ketua PHDI Banyuwangi, Suminto, Gereja Katolik Maria Ratu Damai Banyuwangi. Juga tampak Rm Andre, Ketua DKB, Hasan Basri, Samsudin Adlawi, Ketua HIPMI Banyuwangi, Dede Abdul Ghani, Ketua Asosiasi Kepala Desa Banyuwangi, Anton, Ketua Asosiasi BPD, dan Rudi Hartono.

WAJIB TAHU: Gugatan Citizen Law Suit (gugatan warga negara) terhadap Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani atas penyerahan 1/3 kawasan gunung Ijen ke Kabupaten Bondowoso dgn mempertimbangkan 4 aspek. Yakni, aspek filosofis, historis, yuridis dan ekonomis. Simak selengkapnya hanya di YouTube LSAP Banyuwangi Channel dibawah ini:

Banyuwangi Rebound sendiri, kata Ipuk, berangkat dari tantangan dan optimisme di tengah pandemi ini. Angka kemiskinan naik meskipun Banyuwangi mengalami kenaikan yang terendah di Jawa Timur (0,1 persen). Di tengah berbagai tantangan itu, pertumbuhan ekonomi mulai kembali positif. Roda ekonomi mulai bergerak, salah satu indikatornya adalah pembiayaan dari perbankan ke UMKM yang melonjak. “Growth kredit perbankan Banyuwangi jauh di atas rata-rata nasional. Selain itu, budaya inovasi yang dikembangkan pemerintah terus berkembang,” ungkapnya.

Tantangan dan optimisme , imbuh Ipuk, arsitektur Banyuwangi Rebound dibangun mencakup tiga pilar dan dua pondasi penting. Yakni, meliputi tangguh pandemi, pulihkan ekonomi, dan merajut harmoni. Sedangkan pondasi yang menopangnya adalah pelayanan publik yang ekselen dan partisipasi aktif publik.

“Jadi bukan sekadar gerakan untuk pariwisata. Bukan pula hanya sebatas UMKM. Tapi, ini adalah gerakan yang menyeluruh, pemangku kepentingan untuk membawa Banyuwangi mampu melakukan rebound,” tandas Ipuk.

Ditambahkannya, tiga ekosistem dalam Banyuwangi Rebound. Yakni, pertama ekosistem penanganan pandemi yang terdiri atas berbagai langkah tangani Covid-19 dan meningkatkan derajat kesehatan warga secara umum. “Selain penanganan pandemi seperti kita menuju 100 persen vaksinasi anak, berbagai langkah preventif, promotif, kuratif dan rehabilitatif kita integrasikan. Di dalamnya termasuk menuju zero stunting, dukungan bidan desa, suplemen gizi rakyat, memacu kegiatan-kegiatan olahraga, dan revitalisasi unit kesehatan sekolah (UKS),” tuturnya.

Adapun ekosistemnya pemulihan ekonomi, mulai program pengembangan UMKM, pertanian, infrastruktur, pembangunan perdesaan, hingga pariwisata telah dirancang. Semuanya didesain untuk membuka lapangan kerja serta memulihkan pergerakan ekonomi warga. Kesemuanya telah disusun siapa mengerjakan apa plus target waktunya. Contohnya, mempersiapkan pembangunanan dan perbaikan 1.000 kilometer jalan, pada bulan kesekian harus tercapai target sekian, dan seterusnya.

“Adapun ekosistem ketiga adalah merajut harmoni. Ikhtiar memperkuat solidaritas solidaritas sosial, mengembangkan SDM dari sisi pendidikan, menjaga keberlanjutan lingkungan. Bahkan hingga memperkuat kerukunan antar umat beragama ada pada ekosistem ini. (Bernard/Dhuta Ekspresi)

KISAH NYATA: Tentang lelaki renta yang diusir istrinya, lalu tinggal di gubuk derita selama 9 Bulan Di Gubuk Derita Dalam Kesendirian di seputar hutan Pinus lingkungan Gunungsari Sumbergondo Glenmore Banyuwangi. Simak selengkapnya hanya di YouTube LSAP Banyuwangi Channel dibawah ini:

 

 

banner 728x90

Related posts

banner 400x130

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *