“Bangkitnya trah Prabu Tawang Alun pendiri kerajaan Macan Putih membaur dan melebur dalam wadah ikatan emosional “Generasi Tawang Alun” yang selanjutnya disingkat “GENTA”. Guna melahirkan harmonisasi dan mempererat tali silaturahmi antar putra wayah (baca: Garis Keturunan atau Trah), maka digelarlah Halal Bihalal pada Sabtu, 26 April 2025 pukul 14.00 WIB sampai selesai di RM Seblang Jalan Krajan Timur Desa Padang Kecamatan Singojuruh Banyuwangi Jawa Timur. Akankah kebangkitan trah Tawang Alun sebagai pertanda bangkitnya kejayaan Blambangan Banyuwangi Berikut liputan wartawan Dhuta Ekspresi, Anton Budi Hartono yang mengikuti langsung acara tersebut.”
SEKADAR ilustrasi catatan, kerajaan Macan Putih didirikan oleh Tawang Alun pada tahun 1667. Dimana sebelumnya, tahun 1659 Tawang Alun meninggalkan tahta singgasana Kerajaan Kedawung diserahkan kepada adiknya Mas Wilo atau Wilobroto. Dalam perjalanannya, Tawang Alun ditemani 40 pengikut setianya menuju wana Bayu Songgon seraya mendirikan sebuah pedukuhan. Namun lambat laun pedukuhannya menjadi ramai karena banyak rakyat Kedawung yang berdatangan secara bersilih ganti.
Selama di wana Bayu yang kini dikenal sebagai Rowo Bayu, Tawang Alun melakukan tapa brata bertahun-tahun lamanya. Pada suatu malam dalam keheningan meditasinya di tahun 1667, Tawang Alun mendapatkan bisikan gaib agar bangun dan melangkah menuju puncak Rowo Bayu ke arah timur utara. Nantinya akan ada Macan Putih jelmaan, dan Tawang Alun diminta untuk naik ke punggungnya. Selanjutnya akan diantarkan ke sebuah tujuan, dan sesampainya tujuan tersebut tiba-tiba Macan Putih melecut (baca: Menghilang). Lalu untuk mengabadikannya, Tawang Alun mendirikan kerajaan diberi nama “Macan Putih”.
Tonton juga video Petualangan Wisata Mistis yang mengungkap jejak-jejak pertemuan Tawang Alun dengan Macan Putih di puncak Rowo Bayu pada malam Jumat nan keramat di bawah ini:
Dalam catatan sejarah, pada jamannya Kerajaan Macan Putih mengalami masa-masa kejayaan bahkan dikenal juga sebagai kerajaan yang maju dan modern. Jejak-jejaknya pun dapat ditelusuri di seputar Desa Macan Putih dan Desa Gombolirang Kecamatan Kabat Banyuwangi. Bukan hanya ada batu merah khas kerajaan Macan Putih yang berserakan, namun juga banyak peninggalan-peninggalan lainnya.
Adapun dengan perhelatan Halal Bihalal Beluarga Besar GENTA (Generasi Tawang Alun) Macan Putih yang dimeriahkan tari Jejer Gandrung, adalah hal yang wajar jika dipadati oleh para putra wayah Tawang Alun. Disamping itu juga tampak dihadiri Ki Ageng Pemangku Bumi Sroyo, jajaran Polsek Singojuruh, jajanan Koramil Singojuruh, serta undangan lainnya.
Ketua GENTA (Generasi Tawang Alun), Teguh Eko Raja di, SAB dalam sambutannya menandaskan, digelarnya Halal Bihalal ini semata-mata sebagai ajang silaturahmi sekaligus demi terciptanya harmonisasi. Oleh karenanya sebagai titisan trah Blambangan harus bangga dan tetap nguri-nguri warisan budaya para leluhur.
“Silaturahmi ini harus tetap terjalin khususnya bagi keluarga besar trah Prabu Tawang Alun Macan Putih Blambangan. Kita sebagai putra Blambangan sudah sewajarnya dan menjadi kewajiban kita untuk berbakti di bumi Blambangan, untuk bersinergi dengan pemerintah kabupaten Banyuwangi membangun Blambangan, membangun Banyuwangi. Agar ke depan makmur rakyatnya swmakin adil kebijakannya dan bermanfaat bagi kita semua,” ungkap pria yang bergelar Mas Bagus Wongsokerto dalam trah Blambangan itu dengan menyakinkan.
Pria yang juga mendapatkan gelar dari Mangkualam Solo sebagai Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Kerto Hadi itu juga mengajak, agar para titisan Prabu Tawang Alun dan semua pihak untuk bersama-sama membangun Banyuwangi. Sehingga nantinya Blambangan Banyuwangi ke depannya akan lebih baik lagi.
Tonton juga video yang mengungkap jejak-jejak menghilangnya Macan Putih jelmaan yang kemudian dikenal sebagai Pelecutan di bawah ini:
“Wong Blambangan kudu urip, wong Blambangan kudu biso nguripi, wong Blambangan kudu murub, wong Blambangan kudu biso madangi pethenge pikir lan atine manungso Blambangan. Wong Blambangan kudu gelem dan wajib rukun, kanggo bareng-bareng njogo jejege Umbul-umbul Blambangan. (Orang Blambangan harus hidup, orang Blambangan harus menyala, orang Blambangan harus bisa menjadi penerang gelapnya pikiran dan hatinya Blambangan. Orang Blambangan harus mau dan wajib rukun, untuk secara bersama-sama menjaga tegaknya Umbul-umbul Blambangan, red.),” tegas Teguh dalam Boso Osing yang deles.
Sedangkan kepala Kesbangpol Banyuwangi, R Agus Mulyono menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya atas undangannya. Sehingga dapat menghadiri acara Halal Bihalal keluarga besar GENTA (Generasi Tawang Alun) Macan Putih Blambangan.
“Sungguh ini suatu kehormatan karena kami telah diundang di acara halal bihalal yang sakral ini. Terus terang saya asli dari Madura dan keturunan orang Madura. Namun saya bangga terhadap Banyuwangi, terutama para keturunan Prabu Tawang Alun,” ujarnya.
Adapun Kapolsek Singojuruh, AKP Arif Wahyudi, SH sangat mengapresiasi adanya Halal Bihalal yang digelar keluarga besar Generasi Tawang Alun tersebut. Kehadirannya, mewakili jajaran Polresta Banyuwangi yang kebetulan Kapolresta sedang ada acara lain, sehingga tak bisa hadir langsung.
Tonton juga video yang mengungkap keberadaan kraton Macan Putih di bawah ini:
“Kami berharap segala warisan para leluhur tetap dilestarikan. Dan karena masih dalam bukan Syawal, tak lupa saya mengucapkan minal aidin wal faidin. Mohon maaf lahir dan batin,” kata Arif dengan tulus.
Lain halnya dengan Ki Ageng Bumi Sroyo, dalam sambutannya ia mengawali dengan ucapan minal aidin wal faidin kepada semua keluarga besar trah belambangan, pihak kepolisian, para media dan undangan lainnya yang hadir. Menurutnya, Halal Bihalal ini sengaja diadakan untuk mempererat tapi persaudaraan antar keluarga besar trah Tawang Alun, dengan pemangku kepentingan serta masyarakat luas.
“Tapi tolong dipahami, kami mendirikan organisasi GENTA (Generasi Tawang Alun, red.) ini semata-mata untuk menyatukan para keturunan Tawang Alun yang tersebar dimana-mana agar bisa saling bersilaturahmi. Jadi bukan untuk membuat tandingan sistem kerajaan ataupun kerajaan di Banyuwangi. Karena raja sekarang di banyuwangi ya tetap Bupati Banyuwangilah, yang era sekarang menjadi pemimpin Banyuwangi,” tandasnya mengingatkan. ***










Implementasi dari trah Blambangan harus mampu berharmoni dg membangun konsep pemerintahan, budaya, dan warisan yang memberikan pengaruh yang besar terhadap wilayah Banyuwangi hingga saat ini.
No retorika .. reality program yg ditunggu rakyat
Semoga bermanfaat keturunan Prabu tawang alun.