Kisah Sedih Emak-emak Aliyan Rogojampi Terjebak Hutang Bank Pelecit Yang Mencekik

Tampak Dari Atas: Kepala Desa Aliyan, Agus Nurbani Yusuf beserta jajarannya. Sedangkan dibawah kalangan emak-emak yang membutuhkan solusi agar terbebas dari jeratan Bank Pelecit Bin Bank Titil Bin Bank Setan

“Seakan sudah menjadi fenomena baru dan terbarukan, dimana kalangan emak-emak terlilit hutang di Bank Pelecit Bin Bank Titik Bin Bank Setan. Meskipun sudah tahu bunganya cukup tinggi namun anehnya emak-emak masih nekad berhutang. Sehingga sebagian besar emak-emak tersebut tak sanggup untuk membayar. Disinilah awal bencana dimulai, karena para penagih tak mengenal kompromi. Berbagai cara dilakukan walau dengan cara kasar dan tidak sopan. Targetnya jelas, yang penting emak-emak harus bayar angsuran dan melunasi hutangnya. Berikut catatan Wartawan Dhuta Ekspresi, Anton Budi Hartono yang menggali dari berbagai referensi dan narasumber.”

Ikhwal munculnya istilah “Bank Pelecit”, berasal dari bahasa Jawa. Yakni “Pelecit” yang mengkonotasikan dalam pengertian “Dikejar-kejar” atau “Ditekan-tekan”. Istilah “Bank Pelecit” tersebut digunakan untuk menggambarkan lembaga keuangan informal yang memberikan pinjaman. Dan biasanya tanpa jaminan dan dengan bunga tinggi. Ironisnya seorang peminjam yang menjadi nasabah yang belum bisa membayar hutangnya akan dikejar-kejar atau ditekan oleh peminjam melalui para pegawai yang menjadi juru tagih.

Read More

Mencuatnya penamaan istilah “Bank Titil”, karena sistem pembayarannya yang dilakukan secara mencicil atau dititil. Namun pada perkembangannya, penyebutan “Bank Pelecit” Atau “Bank Titil” tersebut berubah menjadi “Bank Setan”. Penyebutan istilah ini dikaitkan dengan cara-cara para penagihnya yang kasar, tidak sopan dan tidak mengenal kompromi. Bahkan jika peminjam tak bayar angsuran atau tidak melunasi, segala macam barang yang ada dirampasnya.

Dengan bercermin pada uraian diatas, maka tak mengherankan jika kalangan emak-emak dimanapun berada serasa mendapatkan angin segar. Hal itu tatkala tampilnya sosok pejuang yang kondang sebagai Aktivis Kontroversi Banyuwangi, Yunus Wahyudi. Karena keberaniannya, Aktivis Yunus memasang badan membela emak-emak dan memberantas liarnya praktik-praktik Bank Pelecit bin Bank Titil Bin Bank Setan.

Pada hari Senin, 5 Mei 2025 pagi sebenarnya momen penting bagi emak-emak Desa Aliyan Kecamatan Rogojampi Banyuwangi. Karena saat itu ada agenda bertemu langsung dengan Aktivis Yunus dengan agenda membantu atasi problematikanya emak-emak. Sehingga mulai pukul 08:00, kalangan emak-emak berbondong bondong datang ke Balai Desa Aliyan untuk pengaduan kepada Kepala Desa dan Aktivis Yunus. Akan tetapi sayangnya Aktivis Yunus dalam waktu yang sama sedang mengalami pengeroyokan oleh 15 an preman sewaan. Sehingga Aktivis Yunus pun urung datang dan agendanya untuk membantu juga tertunda.

Sesuai hasil pantauan dari pengungkapan keluh kesah emak-emak di Balai Desa Aliyan, problematikanya memang cukup beragam. Akan tetapi perlakuan yang dialami emak-emak hampir serupa. Yakni selain sikap para penagih yang tidak sopan dan kasar, juga menciptakan keresahan rumah tangga dan masyarakat sekitarnya. Sehingga banyak yang dibuatnya geram dan geregetan.

Prasini mengaku hidupnya tak tenang gegara dikejar-kejar Bank Pelecit

Seperti halnya yang diceritakan warga Desa Aliyan, Prasini (26 tahun) menyatakan, ia terpaksa meminjam sejumlah uang kepada Bank Mekar dan BTPN karena suatu kebutuhan. Namun saat belum mampu membayar angsuran, ia diperlukan kasar hingga menyebabkan resah dan tidak dapat tidur.

“Saya menyadari setiap harinya bekerja menyulam Monte dengan penghasilan kecil. Sedangkqn suami bekerja sebagai pembajak sawah, itupun kadang ada kerjaan kadang tidak ada. Sehingga untuk bayar angsuran banyak telatnya. Tapi mbok yo cara nagihnya jangan kasar dan tidak sopan. Tapi mereka maunya terus memaksa sambil membentak-bentak,” ujar Sulastri dengan pandangan kosong dan perasaan sedih.

Sedangkan warga lainnya, Bu Anis (37 tahun) menandaskan, para penagih yang datang sikapnya tidak sopan dan bicaranya sangat kasar. Menurutnya, oknum-oknum dari Bank Pelecit atau Bank Titil saat ia belum bisa bayar angsuran, para penagih langsung marah-marah.

Bu Anis dengan lantang menyampaikan butuh solusinya emak-emak yang terjerat Bank Pelecit

“Para penagih terus marah-marah dan memaksa harus ada dan dibayar detik itu juga. Jika tidak membayar mereka mengancam akan mengambil barang-barang yang ada sebagai jaminan penggantinya. Terus terang kami dibuat ketakutan,” bebernya dengan ekspresi sedih.

Begitu juga halnya dengan Yanis (45 tahun) mengungkapkan kesedihannya. Dikatakannya, setiap hari ia bekerja kerajinan Monte sedang suaminya buruh kerja mengaspal jalan di Dusun Temurejo Aliyan Rogojampi. Tentu saja penghasilannya sangatlah minim.

Tampak Warga Yanis saat mengadukan problematikanya kepada Kepala Desa Aliyan, Agus Nurbani Yusuf

“Karena penghasilan kami sangat kecil dan tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, maka wajar jija bayar angsuran sering telat. Tapi penagih Bank Pelecit itu tidak mau tahu. Bahkan tanpa memiliki tata krama dengan arogannya memaksa dan mengancam. Sehingga hidup kami menjadi tidak tenang,” keluhnya.

Sementara itu warga Sulastri (50 tahun) mengaku mempunyai pinjaman uang di Mekar. Namun karena tanggungan angsurannya menyebabkan dalam menjalani kehidupan sehari-harinya semakin berat. Dikarenakan harus gali lubang tutup lubang semata-mata hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Sulastri warna Desa Aliyan yang juga terjerat hutang di Bank Pelecit

“Karena beratnya perekonomian dan sulitnya mencari penghasilan, rasanya semakin hari semakin tak menentu hidup ini. Kadang saya juga merasa kasihan melihat tetangga-tetangga yang tiap hari dikepung oleh para penagih dari beberapa Bank Pelecit. Dan pada akhirnya ada yang lari minggat ke Bali. Saya berharap pemerintah bisa mengentaskan dari jeratan ini dan mengentaskan dari kemiskinan ini,” katanya dengan penuh rasa harap.

Mendengar keluhan dari warganya kalangan emak-emak itu, Kepala Desa Aliyan, Agus Nurbani Yusuf berjanji akan membantu mengatasi permasalahan yang terjadi. Pihaknya akan segera menindaklanjuti ke Pemerintah Kabupaten Banyuwangi untuk dicarikan solusi terbaiknya.

“Namun demikian, saya berpesan jikalau ada pembebasan, ya mudah mudahan. Itupun kalau memang ada kebijakan dari pemerintah. Saya juga selalu mengingatkan kepada emak-emak mengenai gaya hidup agar tetap dengan hidup pola sederhana. Tak perlu berlebihan ya. Lebih baik apa adanya saja,” kata Agus sembari mengingatkan. ***

Tonton juga film yang mengisahkan tentang Korban Kejamnya Rentenir dibawah ini:

banner 728x90

Related posts

banner 400x130

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *