“Penambangan Pasir yang dilakukan tak terukur dan tanpa mempertimbangkan dampak lingkungan, niscaya akan merusak tatanan ekosistem yang ada. Begitu juga halnya dengan tambang galian C di Desa Bulusan Kecamatan Kalipuro Kabupaten Banyuwangi, yang aktivitasnya konon diduga ilegal. Bahkan kini makin mendekati rumah-rumah permukiman warga. Tentu saja hal itu menciptakan kecemasan serta ketakutan terhadap kemungkinan dampak yang lebih parah lagi.”
Menurut warga setempat, Hasyim yang selama ini getol mengkritisi aktivis penambangan pasir tersebut merasa geram. Dikatakannya,
aktivitas tambang galian C di dekat lingkungannya itu semakin agresif dan merajalela. Setiap harinya puluhan truk hilir mudik membawa material hasil galian. Sementara di lokasi penambangan, beberapa alat berat terus bekerja tanpa henti menggali material batu dan tanah.
“Penambangan pasir ini tidak hanya menimbulkan kerusakan fisik terhadap lingkungan, tetapi juga menciptakan ketidaknyamanan yang signifikan bagi warga. Sejujurnya para warga di lingkungan ini merasa resah dan ketakutan atas potensi dampak yang ditimbulkan nantinya,” ungkap Hasyim yang sehari-harinya bekerja sebagai petani aktif merasa gundah gulana.
Tonton juga video terkait dibawah ini:
Salah satu dampak yang paling terasa di dunia pertanian, lanjut Hasyim, yaitu terkikisnya sumber mata air yang rusak parah. Sehingga para petani sudah mulai kesulitan mencari air untuk mengaliri persawahannya.
“Ini fakta Mas. Kami para petani kesulitan untuk mendapatkan air. Padahal dulu kami bisa mengaliri lahan pertanian seminggu sekali. Akan tetapi sejak ada aktivitas penambangan pasir ini, kami hanya bisa mengaliri air di persawahan dalam waktu dua minggu sekali. Karena sumber airnya sudah rusak serta terkikis. Lihat saja ke lokasi tambang yang sudah begitu dalam,” keluh Hasyim dengan mata berkaca-kaca menahan kesedihan.
Adapun dampak yang timbul akibat penambangan pasir, masih menurut Hasyim, utamanya saluran air yang rusak parah. Sebelum adanya penambangan pasir, dulu saluran irigasi digunakan untuk pertanian dan mengalir langsung ke laut.
“Akan tetapi saluran air tersebut sudah rusak parah. Yang ironis, sebagian saluran air itu ikut tertambang. Akibatnya, aliran air yang dulu langsung mengalir ke laut tapi kini tidak lagi berjalan normal. Melainkan justru menggenang di lubang bekas tambang. Sehingga menciptakan kolam besar buatan yang tidak hanya menghambat aliran air tapi juga berpotensi menjadi sarangnya penyakit,” sesalnya.
Sebenarnya Hasyim dan warga lainnya mengaku sudah berulang kali melaporkan aktivitas tambang ini kepada pihak desa dan kecamatan. Namun anehnya hingga sekarang belum ada tindakan tegas sama sekali.
“Entah mengapa laporan saya bersama warga lainnya terkait adanya tambang galian C itu sama sekali tidak direspon. Ini sungguh mengherankan. Ada apa sebenarnya?,” pungkasnya penuh rasa curiga. (tim dhuta ekspresi)









