Terminal Sritanjung Ketapang Banyuwangi Akan Dijadikan Buffer Zone Penyeberangan Menuju Bali

Kepala Dinas Perhubungan Banyuwangi, I Komang Sudira Admaja

“Keberadaan Terminal Sritanjung di Ketapang Banyuwangi kondisinya kini memang cukup memprihatinkan. Selain tidak begitu berfungsi keterminalannya, juga kurang terawat di area seputarnya. Namun kabar terbaru mengemuka bahwa akan terjalin kerjasama dengan PT ASDP guna menjadikan Terminal Sritanjung sebagai Buffer Zone-nya bagi armada-armada yang akan menyeberang ke pulau Bali.”

SEKADAR diketahui bahwa Terminal Sritanjung yang berada di Lingkungan Kapuran Desa Ketapang Kecamatan Kalipuro Kabupaten Banyuwangi, luasnya mencapai 62.920 meter persegi dan dikelola oleh Kementerian Perhubungan RI. Sesuai catatan sejarahnya, terminal Sritanjung diresmikan dan awak dioperasikan pada tahun 1996. Yakni untuk melayani moda transportasi umum, berupa angkutan kota, mobil penumpang umum (MPU), angkutan pemadu moda, angkutan antar kota dalam provinsi (AKDP) dan angkutan antar kota provinsi (AKAP).

Read More

Namun pada perkembangannya, tahun 2012 terminal Sritanjung yang jaraknya dengan Banyuwangi kota berkisar kurang lebih 10 kilo meter akhirnya mengalami renovasi. Hal itu dilakukan sebagai upaya dari bagian program untuk perubahan menata wajah kota yang lebih luas lagi.

Tonton juga video terkait dibawah ini:

Menurut Kepala Dinas Perhubungan Banyuwangi, I Komang Sudira Admaja, S.Pt, M.Si, jika melihat kondisi terminal-terminal saat ini memang masih banyak pembenahan-pembenahan yang dilakukan. Karen terminal sangat berpengaruh pada fungsi transportasi bagi masyarakat.

“Hanya saja masyarakat saat ini tidak seperti yang dulu lagi. Dimana terminal semestinya menjadi tempat bertemunya antara penumpang dengan armada angkutan, namun faktanya sudah berubah. Karena di era digitalisasi online, mereka bisa mendapatkan layanan angkutan berangkat dari rumah,” urai Komang memberikan alasannya.

Ditambahkannya, jasa angkutan online ini pelayanannya menjemput dari rumah menuju ke tempat tujuan. Sedangkan di terminal bersifat konvensional, dari tempat tertentu menuju ke tempat tertentu.

“Sehingga dengan demikian tempat berkumpulnya (Terminal, red.) ini tidak bisa banyak dan tidak maksimal. Padahal dulu waktu bangun terminal fungsinya tidak diperkirakan seperti saat ini. Sehingga fungsi terminal tidak bisa optimal lagi,” ujarnya.

Sesuai arahan BPK, lanjut Komang, bahwa setiap tempat atau aset yang dimiliki agar dilakukan optimalisasi. Hal itu guna pendapatan daerah maupun layanan kepada masyarakat. Itulah sebabnya, pihaknya terus mengkaji secara bertahap untuk proses optimalisasi tersebut.

“Diahtapkan nantinya, terminal itu tidak hanya berfungsi keterminalannya saja tapi funsi-fungsi lainnya. Yakni seperti pengembangan UMKM, kemudian pendapatan daerah dari parkir, dan yang lainnya terus kita tingkatkan dan optimalkan agar menjadi aset yang bermanfaat bagi daerah kabupaten Banyuwangi,” ungkapnya berdiplomasi.

Kebiasaan masyarakat itu, masih menurut Komang, mintanya yang serba instan. Mereka maunya berangkat dari rumahnya dan langsung ke tempat yang dituju. Karena layanan online itu bisa mengangkut dari depan rumah kemudian dijemput ke tempat sub terminal yang ditentukan.

“Bahkan pada bagian-bagian dari pelayanan penyedia jasa itu langsung menuju ke tempat tujuannya. Sedangkan terminal yang sekarang kita laksanakan dengan asumsi bahwa masyarakat akan berangkat dari lokasinya dari sana tapi nyatanya sering hanya dilalui saja,” tuturnya.

Sisi Pojok Terminal Sritanjung Kapuran Ketapang Banyuwangi

Oleh karenanya, pihaknya akan mengupayakan supaya terminal jarak jauh. Dipantai seperti bus Sinar Jaya, masuk ke terminal dengan layanan jam yang sudah ditetapkan. Sehingga orang bisa naik dari sana dengan tujuan ke Jakarta. Kemudian bus tujuan Madura berangkat dari Muncar dengan jam yang sudah pasti dan mereka bisa berangkat dari sana.

“Nah ini kepastian dan kepastian layanan terus kita kembangkan supaya masyarakat yang ingin tepat waktu itu bisa terlayani dengan bagus. Masyarakat tidak terlalu berlama-lama menunggu di terminal, sehingga aktivitasnya bisa bermanfaat dengan baik,” kata Komang memberikan alasannya.

Apapun mengenai kerusakan sudah dilaporkan ke pimpinan dan Wakil Bupati Bany, H Mujiono sudah melakukan survey di lokasi. Hasilnya tempat-tempat tersebut nanti akan dilakukan perencanaan untuk pengembangan ke depan. Sehingga semua area yang ada dapat bermanfaat dengan bagus.

“Kita ada kerjasama dengan PT ASDP, dimana terminal Sritanjung itu akan dijadiakn sebagai Buffer Zone (Zona Peyangga, red.) oleh PT ASDP untuk melayani penyeberangan yang menuju ke Bali. Kita sudah kerja bhakti dengan PT ASDP, Satpol PP, DLH, Dishub secara keseluruhan dan beberapa SKPD lainnya,” pungkasnya. (anton budi hartono) 

banner 728x90

Related posts

banner 400x130

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *