Seluruh Masyarakat Banyuwangi Wajib Menolak Penyerahan 1/3 Ijen ke Bondowoso.

Koordinator Umum "Gerakan Rakyat Banyuwangi Bersatu (GARRAB)", Bondan Madani

Bondan: Bupati Ipuk Harus Tetap Bertanggung Mengembalikan Keutuhan Ijen ke Banyuwangi

BANYUWANGI: Sesuai sejarahnya, laskar-laskar Blambangan yang dipandegani oleh Rempeg Jogopati dalam melawan penjajah Belanda yang puncaknya dikenal sebagai “Perang Bayu” terjadi pada 18 Desember 1771, dan Belanda pun mengakui kewalahan menghadapi heroismenya Rempeg Jogopati dan para laskarnya. Peristiwa bersejarah “Perang Bayu 18 Desember” itulah yang dijadikan pondasi dasar Hari Jadi Banyuwangi (HARJABA) yang kini memasuki 250 tahun. Namun bertepatan usia Banyuwangi yang ke 250 tahun, Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani jutru memberikan kejutan yang luar biasa, yaitu menyerahkan 1/3 kawasan gunung Ijen ke Kabupaten Bondowoso. Sikap kesewenang-wenangan Bupati Ipuk itulah yang kini menjadi sorotan tersendiri bagi Gerakan Rakyat Banyuwangi Bersatu (GARABB).

Read More

Koordinator Umum (GARABB), Bondan Madani menyesalkan kebijakan Bupati Ipuk yang ceroboh, yaitu menyerahkan 1/3 kawasan gunung Ijen ke Kabupaten Bondowoso. Padahal menurutnya, saat itu Ipuk masih belum lama dilantik menjadi Bupati bahkan belum berbuat apa-apa demi pembangunan dan kemajuan Banyuwangi.

Simak Juag gugatan Citizen Law Suit Tim 5 Kaukus Advokat Muda Indonesia (KAMI) terhadap Bupati Ipuk Fiestiandani atas penyerahan 1/3 Ijen ke Bondowoso, kini mulai memasuki babak penentuan. Selengkapnya hanya di YouTube LSAP Banyuwangi Channel dibawah ini:

“Penyerahan 1/3 kawasan gunung Ijen ke Bondowoso melalui penandatanganan Berita Acara Kesepakatan tertanggal 3 Juni 2021, bukan hanya bentuk kesewenang-wenangan. Akan tetapi sekaligus Bupati Ipuk telah menyakiti hati warga masyarakat Banyuwangi serta menodai amanah para leluhur kita. Karena bagaimanapun, Ijen merupakan ikon kebanggaan masyarakat Banyuwangi yang sudah mendunia,” tandas Bondan dengan penuh penyesalan.

Akibat kebijakan Bupati Ipuk yang melepaskan ikon Ijen ke Bondowoso tersebut, lanjut Bondan, telah menyebabkan kegaduhan di tengah masyarakat Banyuwangi. Namun anehnya, seolah-olah lepas tangan atau lari dari tanggungjawab seraya berstatemen di hadapan media dengan mengatakan semuanya menunggu keputusan dari Menteri Dalam Negeri (Mendagri).

“Lucu dan plin-plan memang melihat kepemimpinan Bupati kita ini (Ipuk Fiestiandani, red.), namun inilah faktanya yang harus diterima. Di sisi lain ada yang aneh, kenapa pejabat tinggi dari pusat sering datang ke sini saat mendekati HARJABA. Lebih aneh lagi tiba-tiba mendapatkan banyak penghargaan. Padahal menurut hemat kami yang dikerjakan oleh Bupati Ipuk biasa-biasa saja, tetapi hebohnya di media luar biasa. Apakah ragam penghargaan itu memang dapat diorder walaupun tak berprestasi? Lantas kalau benar, berapa biayanya satu penghargaan dan darimana sumber dananya ya?,” ujar pria muda yang energik itu terdorong rasa keingintahuannya.

Diakuinya, Bondan beserta jajarannya di internal GARRAB tak begitu terkejut menyaksikan akrobatik Bupati Ipuk denga memainkan peranan media. Pasalnya semenjak sang suami menjadi Bupati, yaitu Abdullah Azwar Anas yang kemudian digantikan oleh istrinya, keduanya gemar dan hobi dengan beragam pencitraan. Tujuannya tak lain adalah agar di tengah masyarakat umum terkesan luar biasa.

“Semoga dengan hikmah HARJABA ke 250 ini bisa membuka hati dan pikiran sang Bupati (Ipuk Fiestiandani, red.) bahwa dirinya harus tetap bertanggungjawab untuk mengembalikan keutuhan kawasan gunung Ijen ke pangkuan Banyuwangi. Kemudian meminta maaf kepada rakyat bumi Blambangan. Terakhir kami juga berharap kepada seluruh masyarakat Banyuwangi dari kecamatan Wongsorejo sampai Kalibaru dan seluruh kecamatan untuk bersama-sama wajib menolak penyerahan 1/3 kawasan gunung Ijen ke Bondowoso. Kita semua patut memiliki semangat belapati Ijen seperti yang dilakukan oleh Tim 5 Kaukus Advokat Muda Indonesia (KAMI),” pungkasnya bersungguh-sungguh. (Junlaros/Dhuta Ekspresi)

Info lain tentang pengalaman langsung mangku Gimin tentang Rintihan Tangis Wanita Tengah Malam di seputar area Beji Antaboga Glenmore Banyuwangi. Simak selengkapnya hanya di YouTube LSAP Banyuwangi Channel dibawah ini:

banner 728x90

Related posts

banner 400x130

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *