BANYUWANGI: Antusiasme masyakarat Banyuwangi terhadap Pagelaran tari kolosal Gandrung Sewu 2022 patut diacungi jempol. Pasalnya ada seribu penari yang berlatih untuk menyukseskan event Banyuwangi Festival (B-Fest) yang masuk salah satu agenda pariwisata nasional dari Kementerian Pariwisata RI tersebut.
Seperti yang disampaikan Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani, jika event yang digelar sejak 2012 lalu itu, bisa menjadi momentum untuk membangkitkan kembali pariwisata Banyuwangi.
“Apa yang kami lakukan di Banyuwangi ini selaras dengan instruksi Bapak Presiden. Dimana semuanya diminta untuk berwisata di dalam negeri, demi menjaga perekonomian bangsa. Untuk itu, kita perlu juga menyambut instruksi tersebut dengan baik. Salah satunya dengan menggelar event wisata yang terbaik, yakni Pagelaran Gandrung Sewu,” tandas Ipuk.
Saat mewabahnya pandemi Covid 19 hingga terjeda pada 2020, Gandrung Sewu sempat dilakukan pada tahun lalu. Namun, konsepnya dilakukan secara virtual di berbagai tempat. Tidak hanya di Banyuwangi, tapi juga di sejumlah kota di Indonesia dan dunia dimana terdapat Ikatan Keluarga Banyuwangi (Ikawangi) di tempat itu.
“Oleh karenanya pada tahun ini, kita gelar secara langsung di Pantai Boom Marina Banyuwangi (Sabtu, 29 Oktober, red.) ini,” ujar Ipuk dengan penampilan tenangnya.
Sedangkan Kepala Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata Banyuwangi, MY Bramuda memaparkan, Gandrung sewu kali ini mengusung tema Sumunare Tlatah Blambangan yang bermakna Kilau Bumi Blambangan. Menurutnya, tema ini diambil sebagai spirit Banyuwangi bangkit seusai menghadapi pandemi.
“Tentunya hal ini sesuai dengan tagline yang dicetuskan oleh Bupati Banyuwangi, yakni Banyuwangi Rebound,” ungkapnya.
Ditambahkannya, inspirasi tersebut berangkat dari kisah Banyuwangi semasa masih menjadi kawasan Kerajaan Blambangan. Kala itu, kerajaan dilanda wabah. Bahkan, sang putri raja bernama Dewi Sekardadu, terjangkit wabah penyakit. Tak seorangpun yang mampu menyembuhkan. Hingga datanglah juru penyelamat yaitu seorang ulama bernama Syekh Maulana Ishak ke Blambangan.
“Akhirnya kedatangan Syekh Maulana Ishak yang berhasil menyembuhkan wabah di Blambangan inilah yang menjadi fragmen utama dalam Gandrung Sewu kali ini,” papar Bramuda penuh bangga.
Event kali ini, kata Bram, mendapat respons luar biasa dari kalangan pelajar di Banyuwangi. Hampir 3.000 pelajar dari tingkat SD dan SMP yang turut ikut seleksi dan tersaring 1.248 peserta.
“Sesuai data yang kami terima, ternyata tidak hanya dari sekolah umum. Ada juga dari madrasah dan sekolah berbasis pesantren yang turut seleksi,” ungkap pria yang akrab disapa pak Bram itu.
Dapat ikut serta dalam event sebesar Gandrung Sewu memang memberikan kebanggaan sendiri bagi pesertanya. Hal ini sebagaimana yang diakui oleh Moza Kurnia Natasya.
“Dengan jujur saya katakan, saya enang sekali bisa berhasil lolos seleksi ikut Gandrung Sewu tahun ini,” ungkap siswi SMPN 1 Tegalsari itu.
Ternyata hal serupa juga diungkapkan oleh Andini Masayu. Siswi SMPN 1 Purwoharjo yang telah ikut Gandrung Sewu kali ketiga ini.
“Saya selalu antusias untuk berlatih dan ikut seleksi. Karena pengen ikut terus. Seru rasanya,” ujar gadis yang mengaku berlatih tari sejak TK itu penuh kegirangan.
Bahkan rasa kebanggaan serupa juga terlihat dari para orang tuanya. Seno Putri dari Desa Kedunggebang, Kecamatan Tegaldlimo rela menempuh perjalanan lebih dari satu jam demi menyaksikan kedua cucunya berlatih di Stadion Diponegoro. Padahal, seluruh peserta latihan telah didampingi petugas dari sekolah maupun dari kecamatan masing-masing.
“Terus terang rasanya hati saya bungah (senang), bisa lihat anak-anak menari di sini. Tidak semuanya loh bisa ikut dalam even semegah Gandrung Sewu ini” ujarnya seraya tersenyum. (hms)









