Menjaga Moralitas Bupati & Ruang Strategis Kewilayahan Ijen Banyuwangi

IKON BANYUWANGI: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi bersusah pqywh mem-branding Ijen dunq dijadikan sebagai destinasi wisata baik nasional maupun internasional

Ditulis Oleh: Andi Purnama

Ruang wilayah strategis sebagai unsur struktur dan pola ruang yang terbentuk menjadikan satu kesatuan rasa teretorial sebuah kedaulatan, harga diri moralitas dari unsur pembentuk negara dengan pemerintahannya/kerajaan dengan rakyatnya. Raja dan rakyat menjadi saling bahu membahu dalam Rasa/Roso/Ghirah menjaga, memiliki, merawat bahkan memanfaatkan segala potensi sumber daya yang terkandung di dalam pada area kekuasaanya. Tanpa moralitas dan dukungan keterpaduan rasa/ghirah ini, semangat kesatuan/semangat pembelaan akan runtuh dan terpecah belah karena distrush/ketidakpercayaan pembentuk unsur-unsurnya sang pemimpin. Ghirah memunculkan semangat dan soul/jiwa, untuk “cemburu” untuk membela dan mempertahankan, manakala hak teretori kita diganggu, diusik dan dipermasalahkan.

Read More

Kedaulatan tanpa moralitas akan menjadikan rapuhnya suatu pertahanan/kedaulatan kewilayahan. Seperti hadirnya orang asing dalam pekarangan rumah kita, menduduki dan tiba-tiba mengkooptasi wilayah, mengacak-acak potensi dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya, tanpa meninggalkan arti dan kekayaan pada rakyat yang memilikinya. Kedaulatan kewilayahan akan tercerai-berai tidak terjaga manakala pembentuk unsur moralitas pemimpin tereduksi dan tergradasi atas dasar hanya kepentingan ambisi kepentingan keuntungan pribadi/kelompok yang sengaja menyengsarakan rakyatnya.

Simak juga perjuangan Tim 5 Kaukus Advokat Muda Indonesia (KAMI) yang menggugat melalui Citizen Law Suit terhadap Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani atas penyerahan 1/3 kawasan gunung Ijen ke Kabupaten Bondowoso sebagaimana tautan di bawah ini:

Masyarakat Banyuwangi beberapa kali mempertanyakan aspek moralitas dari seorang pemimpin yang menahkodai jalannya tata negara dan pemerintahan di Banyuwangi. Bagaimana bisa kedaultan kewilayahan ini, seolah mudah terlepas dikooptasi dan dikuasai pihak-pihak luar yang hanya memberikaan nilai tawar/bergaining position yang sangat rendah bagi kemaslahatan, kesejahteraan rakyat dan generasi yang akan datang. Hanya berdampak pada kemajuan yang tidak signifikan dari kebangkitan ekonomi yang dikreasikan dalam melihat arti dari sebuah Gunun Emas, sebuah pulau pantai publik, bandara, tanah subur pertanian, mineral dan batuan yang hanya menimbulkan riuh dan ricuh berbagai elemen masyarakat para aktifis, ormas, penggiat dan pemerhati karena mereka-mereka juga yang merasakan atas dampak dari “moralitas pemimpin” yang secara substansial kedaulatan yang diciptakan hanya seperti menciptakan buih yang rapuh terkena angin.

Wilayah tapal batas Gunung Ijen, secara kajian dan analisa dokumen (Aspek Yuridis) sangat sudah tidak perlu dipermasalahkan karena sudah pasti, bahwa secara fisik masyarakat Banyuwangi mengetahui bahwa Ijen merupakan milik masyarakat Banyuwangi, karena 2/3 dari perbatasan administrasi masuk dalam Kawasan Tapal Batas Pemerintahan Banyuwangi. Pengakuan yang didukung oleh aspek data fisik dan yuridis menjadikan unsur melekat atas jiwa dan moralitas masyarkatnya, merasakan suatu kebanggaan rasa memiliki bahwa Api Biru (Blue Fire) Gunung Ijen yang hanya ada dua di dunia salah satunya berada di Kawasan Gunung Ijen selain di negara Islandia. Hal ini melekat dan merupakan anugerah dari Tuhan YME, dengan SDA ini dijadikan kebermanfaatan pada pengembangan ekonomi khususnya pada sektor devisa pariwisata dan kebudayaan. Menciptakan harapan besar bagi masyarakatnya, tumpuan akan bangkitan segala aspek dukungan pembangungan maupun devisa, sehingga meningkatkan taraf hidup, nilai sosial dan kesejahtaraan masyarakatnya.

Andi Purnama

Kedaulatan bukan bicara aspek kepemilikan bukti fisik dan yuridis dari sebuah legal dokumen, kedaulatan juga mencakup strategi komunikasi, politik dan hukum. Kemampuan dalam kinerja eksekutif maupun legeslatif dalam hal-hal mempertahankan kedaulatan kewilayahan, kedaulatan sumber daya alam SDA yang terkandung di dalamnya adalah aspek penting yang harus dimiliki bagi elemen seluruh penyelenggara negara dan pemerintahan, dari satuan terkecil sebuah pemerintahan desa sampai batas wilayah kedaulatan bangsa dan negara. Kedaulatan juga mempunya arti penting dalam menciptakan harapan dan ruang bangkitan ekonomi rakyat dan generasi yang akan datang. Apalah artinya kita mempunyai Sumber Daya Alam yang besar, tanpa memliki rasa kedaulatan dalam melindungi rakyatnya dan dengan mudah dilepas pada pihak yang hanya memperoleh kepentingan pribadi dan segelintir orang saja, gunung emas hanya menjadi harapan semu bagi masyarakat banyuwangi yang berkeinginan anaknya menjadi seorang analis, konseptor, intelektual professional berintegritas dengan pendidikan tinggi yang memadai., Sehingga dia dapat kembali dan menciptakan inisiasi-inisiasi yang otentik maupun kreatifitas yang tinggi. sehingga kedaulatan SDA di wilayahnya dapat lebih panjang dan berputar pemanfaatan pemeliharanaan bagi generasi ke generasi berikutnya.

Simak juga terkait penolakan Bupati Banyuwangi Ipuk melalui kuasa hukumnya untuk membatalkan Berita Acara Kesepakatan penyerahan 1/3 kawasan gunung Ijen ke Kabupaten Bondowoso di bawah ini:

Kedaulatan wilayah merupakan ruang strategis dalam membangun dan menciptakan harapan masa depan bagi kemakmuran dan kesejahteraan rakyatnya. Membangun semangat bersama dalam pemanfaatan pola-pola ruang sehingga menciptakan bangkitan ekonomi yang bersatu dengan visi besar pemimpinnya. Pemimpin dengan segala macam perangkatnya, sangatlah besar kemampuan untuk bernegosiasi, berkomunikasi dan menciptakan posisi tawar yang sangat tinggi, untuk menjadikan “sesuatu” yang lebih bermakna dalam melegesi bahwa dia seorang pemimpin yang mengangkat harkat dan masrtabat juga melindungi rakyatnya, legesi periode 5-10 tahunan menjadikan legesi yang akan dijadikan catatan sejarah sepanjang masa didengar anak cucu dan keturunannya, seorang pemimpin akan dicatat sebagai apa dalam peran dan tindakannya.

Kedaulatan membutuhkan juga unsur moralitas pemimpin (moral, akhlak, etika, susila) yang kesemuanya membawa dalam unsur positif, moral merupakan nilai keabsolutan dalam kehidupan bermasyarakat secara utuh sehingga menciptakan suatu rasa (kepemimpinan) yang dicintai, diterima, menyenangkan di lingkungan atau sebaliknya. Pemimpin yang menjadi harapan rakyatnya, pemimpin yang mampu menahkodai kemana laju kedaulalatan akan ditambatkan. Moralitas juga mencakup akan integritas dan komitmen, janji-janji politik yang diucapkan merupakan banch marking/acuan seorang pemimpin dapat merealisasikan/mengeksekuasi atas program yang sudah terlanjur memberikan harapan-harapan kepada rakyatnya, semoga Bupati Ipuk dapat segera merealisasikan hal tersebut dengan grafik trand yang positif dan dapat dipercaya akan moralitasnya. (Pengamat Kebijakan Publik dan Pembangunan)

Sebuah persembahan lagu soundtrack film “Impian Sang Anak Kampung’ berbasis kearifan lokal yang diproduksi oleh LSAP Banyuwangi Jawa Timur:

banner 728x90

Related posts

banner 400x130

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *