Hengkang Dari KFD Banyuwangi, Memilih Akan Konsentrasi Pengembangan LSAP Di Pulau Bali

RANAH PERFILMAN: Logo "Lembaga Seni Akting dan Perfilman (LSAP)" Banyuwangi yang ajan segera membentuk cabang di Pulau Dewata Bali. Obsesinya menggali dan mengangkat potensi berbasis kearifan lokal ke ranah perfilman

Nyoman Sarjana: Kami sudah ada kesepakatan, tahap pertama kontrak 15 epiosde

Setelah berkiprah secara mandiri di dunia perfilman berbasis kearifan lokal Banyuwangi sejak tahun 2015, akhirnya pendiri Lembaga Seni Akting dan Perfilman (LSAP) Banyuwangi, Denny Sun’anudin memilih akan berkonsentrasi pengembangan LSAP di pulau Bali. Bahkan Denny juga sudah hengkang dari kepengurusan Komisi Film Daerah (KFD) Banyuwangi. Hal itu dipicu karena tak pernah adanya atensi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyuwangi terhadap dunia perfilman daerah, meskipun telah banyak tumbuh subur Komunitas Perfilman Daerah di Banyuwangi.

Read More

Disadari ataukah tidak bahwa Kabupaten Banyuwangi sebenarnya memiliki keberagaman potensi budaya berbasis kearifan lokal yang melimpah, secara berkala dapat digali, ditumbuhkembangkan serta dilestarikannya melalui ranah perfilman. Akan tetapi apalah artinya kiprah para komunitas perfilman di daerah dalam upayanya mengeksplorasi potensi daerah ke dunia perfilman jika tanpa didukung oleh atensi Pemkab Banyuwangi beserta jajarannya.

Ketua Pendiri LSAP Banyuwangi, Denny Sun’anudin

Fenomena Itulah yang menjadi perhatian khusus Denny Sun’anudin, sehingga dengan tegas dan proporsional mensikapinya secara terbuka. Mengingat selama ini jajaran Pemkab Banyuwangi terkesan mengesampingkan atensinya terhadap dunia perfilman daerah, karena hanyut bereuphoria dalam serangkaian kegiatan yang terkemas dalam agenda Banyuwangi Festival (BeFest) yang menyedot anggaran tak terhingga.

“Sebenarnya jika konteksnya ingin mempromosikan segala potensi Banyuwangi, justru melalui perfilman jauh lebih dahsyat dan efektif daripada sekadar euphoria dengan Banyuwangi Festivalnya. Mengapa demikian? Melalui perfilman, dapat secara utuh mengangkat dan memvisualisasikan potensi daerah dengan alur tematikal ceritanya seraya melibatkan berbagai lapisan masyarakat yang dapat dijadikan sebagai literasi sejarah. Sedangkan Banyuwangi Festival hanya bersifat kemasan entertainment instan yang selanjutnya akan berlalu bersama perjalanan sang waktu,” ungkap Denny kepada Dhuta Ekspresi.

Fulm Indhie pertama di Banyuwangi bertajuk “Impian Sang Anak Kampung” episode perdana dalam kisah “Korban Kejamnya Rentenir”. Selengkapnya simak di bawah ini:

 

Pria penggagas slogan “Bertekad Akan Menjadikan Banyuwangi sebagai Destinasi Perfilman Berbasis Kearifan Lokal” yang dicanangkan saat mendirikan DPC Parfi Banyuwangi pada tahun 2014 yang dipandeganinya itu, telah membuktikan dengan menghasilkan beberapa karya filmnya dengan mengedepankan potensi budaya berbasis kearifan lokal. Di antaranya, seperti Film Drama Musikal “Sritanjung Sidopekso” episode 01, Film 1001 Tingkah Polah Durahim sebanyak 4 episode, Film Impian Sang Anak Kampung secara berepisode, dan beberapa tema film lainnya yang sedang dipersiapkan.

Simak juga trailernya Film Drama Musikal “Sritanjung Sidopekso” episode 01, selengkapnya di bawah ini:

 

“Dalam konsep film berbasis kearifan lokal, kami mengemasnya dalam dialog bahasa Osing Banyuwangi yang ditranslete ke dalam bahasa Indonesia. Dari keseluruhan film tersebut merupakan garapan LSAP (Lembaga Seni Akting dan Perfilman) dengan biaya murni swadaya mandiri dan tanpa sumbangsih sepeserpun dari pihak Pemkab Banyuwangi,” tandasnya.

Upaya memajukan dunia perfilman daerah, Denny juga mempelopori rekrutmen para pelaku Komunitas Perfilman Daerah ke dalam kepengurusan Komisi Film Daerah (KFD) Banyuwangi. Diharapkan, KFD mampu menjadi garda terdepan memajukan dunia perfilman daerah sekaligus menjadi filter utama masuknya film-film dari luar daerah maupun ibu kota Jakarta ke Banyuwangi. Sehingga dengan demikian karakteristik budaya berbasis kearifan lokal Banyuwangi dapat dipelihara dengan baik.

“Akan tetapi selama 3 tahun KFD berjalan, justru dari pihak Pemkab Banyuwangi sama sekali tak pernah memberikan atensi. Padahal teman-teman pengurus KFD dari unsur Komunitas Perfilman Daerah sudah bersusah payah menjalankan program-programnya dengan kegiatan nyata secara berkala. Yang patut disayangkan pula, justru gayung itu tak pernah bersambut. Akhirnya secara sadar saya memilih untuk hengkang dari KFD Banyuwangi. Karena jika bertahan di KFD, ibaratnya hanya akan melukis di atas daun talas,” urai pemeran Pak Agus dalam FTV bertajuk “Kusapa Cinta dan Matahari dari Jawa” yang tayang di MNCTV tahun 2015 itu.

Penggalan FTV bertajuk “Kusapa Cinta dan Matahari dari Jawa”, selengkapnya dapat disimak di bawah ini:

Kendatipun karya-karya filmnya yang berbasis kearifan lokal tak mendapatkan atensi dari Pemkab Banyuwangi, namun justru diapresiasi oleh koleganya di pulau Bali. Salah satunya adalah film “Impian Sang Anak Kampung” telah dikontrak oleh koleganya sebanyak 15 episode untuk digarap di Bali. Bahkan LSAP juga diminta untuk dibuka cabangnya di Bali.

“Alhamdulillah, mulai bulan-bulan mendatang saya akan memulai penggarapan film Impian Sang Anak Kampung sebanyak 15 episode. Di samping itu juga akan berkonsentrasi pengembangan LSAP di pulau Bali. Hal itu sesuai permintaan teman-teman di Bali agar membuka cabang LSAP di Bali. Karena ini merupakan kerjasama secara berkelanjutan untuk pengembangan dunia perfilman sekaligus berkarya secara nyata,” tegas pria yang juga berprofesi sebagai pengacara di Banyuwangi itu.

Secara terpisah inisiator dari Bali, I Nyoman Sarjana saat dihubungi menjelaskan, pihaknya saat menyaksikan film “Impian Sang Anak Kampung” episode pertama dan kedua di YouTube LSAP Banyuwangi Channel merasa ada ketertarikan. Menurutnya, alur cerita dalam film tersebut ada keserupaan dengan realitas kehidupan di Bali. Apalagi selain pesan-pesan moral juga adanya nilai edukasi sebagai motivasi bagi orang-orang yang hidup di kampung tentang pentingnya memiliki semangat hidup dan sebuah impian.

Tampak I Nyoman Sarjana memegang kamera di antara teman-teman klub Vespanya

“Saya sudah membicarakan segala sesuatunya dengan Mas Denny selaku penulis skenarionya, dalam alur cerita dan penggarapannya disesuaikan dengan kehidupan adat istiadat di Bali. Bahkan dalam dialognya jika di Banyuwangi menggunakan bahasa Osing, maka disini akan menggunakan bahasa Bali. Kami sudah ada kesepakatan bahwa tahap pertama kontrak 15 epiosde, dan kami menunjuk Mas Denny langsung selaku sutradaranya. Adapun para pemainnya sudah kami lakukan seleksi ketat yang rencananya juga melibatkan orang penting di Bali,” ujar Sarjana yang enggan menyebutkan identitas orang penting yang dimaksud.

Ditambahkannya, pihaknya sudah meminta kepada pendiri LSAP, yaitu Denny Sun’anudin agar membuka cabang di Bali. Karena menurutnya, di Bali banyak potensi adat istiadat yang perlu diangkat ke dunia perfilman secara berkesinambungan. “Kami sudah mempersiapkan tim solid yang akan menjadi pengurus LSAP Cabang Bali. Bahkan sudah banyak anak-anak muda yang tertarik ingin belajar seni akting. Nah, hal inilah yang akan kami tindaklanjuti dan segera diwujudkan,” pungkas pria yang aktif sebagai jurnalis serta tenaga ahli di Fraksi Demokrat dan Perindo DPRD Buleleng Bali itu. (Tim Dhuta Ekspresi)

Sebuah persembahan karya film Indhie pertama di Banyuwangi, dengan mengedepankan budaya berbasis kearifan. Simak selengkapnya tautan dibawah ini:

banner 728x90

Related posts

banner 400x130

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *