Tari Seblang, Ritual Mistis Berusia Ratusan Tahun di Banyuwangi

Penari Seblang baru akan dipilih jika penari Seblang sebelumnya telah meninggal dunia. Sudah ada 11 penari Seblang yaitu Agung Nyoman Dewi (1639-1698), Gondo (1699-1757), Witri (1758-1832), Sukanto (1833-1887), Dewi (1888-1947), Winasi (1948-1965), Anjani (1966-1986), Misnah (1987-2002), Suhyati (2003-2010), Bohana (2011-2013) dan Supani (2014-sekarang).

Supani sendiri tidak lagi tingal di Bakungan sejak menikah dan menetap bersama suaminya. Hanya saja, setiap tradisi Seblang digelar dia akan datang ke Bakungan untuk pulang dan menari. Dengan menggunakan pakaian khas yang didominasi warna merah, Supani diarak menuju Sanggar Seblang yang berada dtepat ditengah kampung. Lalu ada atraksi adu ayam yang menjadi simbol pengorbanan.

Read More

Saat dupa dibakar, Supani memejamkan mata dan mulai kerasukan. Dipandu seorang Ruslan, lelaki tua sebagai pawang, Supani menari diringi dengan musik yang dimainkan secara langsung serta melakukan adegan demi adegan salah satunya adalah mengiringi proses seperti membajak sawah yang dilakukan oleh dua orang yang diibaratkan kerbau serta menggendong boneka sambil terus menari dengan mata terpejam.

Seblang pertama kali muncul pada tahun 1639. Saat itu, wilayah Bakungan masih berupa hutan yang dikenal dengan “Babat Wono” yang dipenuhi dengan bunga bakung.

Karena akan dibangun pemukiman, prajurit kerajaan membersihkan bunga bakung yang memenuhi wilayah tersebut sehingga wilayah tersebut terkenal dengan nama Bakungan.

Ketika bunga bakung sudah dibersihkan, ada satu pohon besar yang tersisa yang dikenal dengan nama pohon Nogosari, tempat berdirinya di sanggar Seblang. Tidak ada yang bisa menebangnya sehingga ada satu tokoh sakti bernama Mbah Joyo. Dia bersemedi dan akhirnya mengetahui jika ada sembilan danyang atau penunggu yang membuat pohon Nogoasari tidak bisa ditebang. Sembilan danyang tersebut kemudian bersedia pindah dari pohon besar tersebut dengan satu syarat, yaitu harus ada kesenian yang ditampilkan tiap tahun. Namun kesenian tersebut tidak boleh bersuara dan harus dilakukan dengan senyap.

Mbah Joyo menyetujuinya, dan sembilan danyang tersebut dipindahkan ke gunung Bakungan di Bali, gunung Purwo, gunung Sembulungan, gunung Baluran, gunung Ijen dan gunung Raung serta di tiga sumber mata air yaitu Sukmo Ilang di Olehsari, sumber Galing dan sumber Penawar. Setelah dipindahkan, pohon Nogosari bisa ditebang dan wilayah tersebut menjadi pemukiman hingga saat ini.

banner 728x90

Related posts

banner 400x130

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *