Janji kepada para danyang kemudian ditepati, mereka menggelar kesenian secara senyap tanpa suara berbeda dengan kesenian lainnya yaitu Gandrung dan Barong. Ruslan Tokoh setempat menjelaskan nama Seblang berasal dari “Seb” yang berarti diam dan “Lang” yang bermakna langgeng atau abadi.
“Jadi Seblang berarti harus diam atau senyap mulai awal dimainkan sampai berakhir,” tambahnya. Pria kelahiran 1927 tersebut mengaku menjadi pawang Seblang sejak tahun 1967. Saat itu Seblang kembali digelar setelah bertahun-tahun tidak diselenggarakan karena kondisi politik Indonesia dalam keadaan kacau.
Ia kemudian menjadi pawang Seblang hingga tahun ini. Untuk menjadi pawang, tidak harus keturunan langsung dari Seblang namun karena bakat alam. Dia sendiri mengaku tidak tahu siapa yang akan menggantikannya jika dia meninggal dunia.
“Berbeda dengan penari Seblang Bakungan yang harus keturunan penari Seblang pertama. Seperti sebuah kerajaan, Raja harus diteruskan oleh pangeran keturunannya. Seperti itu juga penari Seblang tapi bukan untuk pawang,” jelasnya.
Dalam setiap babak yang dimainkan di tari Seblang, menurut Ruslan adalah simbol kehidupan manusia mulai lahir, termasuk juga perlengkapan yang disiapkan. Dia mencontohkan “bantal kloso” atau bantal tikar simbol dari sebuah pernikahan, atau boneka yang digendong sebagai simbol anak yang dilahirkan atau kesuburan serta keris yang bawa saat menari sebagai simbol perlawanan.









