Demi Peningkatan Perekonomian, Tim Dari Negara Malaysia Berguru Tentang Teknologi Pertanian Di Banyuwangi 

Tampa Tim Organisasi Petani Nasional Malaysia (National Famers Organization/NAFAS) Saat bertemu dengan Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani

BANYUWANGI_DE: Dalam menjamin peningkatan perekonomian rakyat khususnya di kalangan petani Banyuwangi, ternyata dunia pertanian masih menjadi andalan. Bahkan dalam teknik bercocok tanam serta pengelolaan budidaya padi, dunia pertanian di Banyuwangi mendapat perhatian dari berbagai pihak. Bahkan Organisasi Petani Nasional Malaysia (National Famers Organization/NAFAS) jauh-jauh datang ke Kabupaten Banyuwangi demi belajar teknologi budidaya padi, beberapa waktu lalu.

Adapun penyebab ketertarikan rombongan dari negara Jiran Malaysia bersusah payah datang ke Banyuwangi, beranggapan bahwa teknologi budidaya padi di Banyuwangi mempunyai kemajuan tersendiri. Apalagi dalam waktu setahun, para petani mampu panen sebanyak 4 kali.

Read More

Atas kehadiran rombongan dari negara Jiran Malaysia tersebut, disambut baik oleh Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani. Dikatakannya  momentum kali ini dapat dijadikan kesempatan untuk saling berbagi ilmu pengetahuan terkait peningkatan produktivitas dari kedua belah pihak yang saling menguntungkan.

“Dengan adanya pertemuan ini kita saling berbagi dan sama-sama belajar. Dengan demikian kita bisa menerapkan teknologi pertanian apa yang tepat di masing-masing negara. Kami berharap pertemuan ini bisa memberikan insight baru yang mendukung pengembangan Banyuwangi, utamanya di sektor pertanian,” ujar Ipuk secara berterus terang.

Sedangkan Plt Kepala Dinas Pertanian Banyuwangi, Ilham Juanda menjelaskan, varietas IP 400 sejak 3 tahun lalu mulai dibudidayakan di Banyuwangi di lahan seluas 755 ha yang tersebar di 12 kecamatan, 20 desa. Guna menunjang kesuksesan program tersebut, pihaknya melibatkan 22 kelompok tani di Kabupaten Banyuwangi.

“Yang menarik adalah, bahwa varietas yang dipakai di Banyuwangi adalah super genjah. Yakni jenis benih yang memiliki masa panen 70-100 hari. Hal itulah yang dilakukan oleh petani di Banyuwangi,” ungkap Plt pengganti Mohammad Choiri dengan menyakinkan.

Masih menurut Ilham, pemilihan varietas, kunci keberhasilan IP 400 juga tergantung pada proses mekanisasi pengolahan sawah. Di antaranya, mulai pengolahan tanah, persemaian benih, proses tanam dan budidaya. Sedangkan saat panen dilakukan menggunakan alat mesin pertanian dalam rangka mempercepat masa tanam tahap berikutnya.

“Nah, mereka melihat proses itu semua di Usaha Pelayanan Jasa Alsintan (UPJA) Tani Makmur di Desa Gladag Kecamatan Rogojampi Kabupaten Banyuwangi. Yang perlu dicatat, UPJA Tani ini mengembangkan IP 400 sejak 2020. Mereka merupakan lembaga ekonomi di pedesaan yang bergerak di bidang pelayanan jasa dalam rangka optimalisasi penggunaan alsintan untuk memperoleh keuntungan usaha. Alhamdulillah mereka telah mencapai keberhasilannya,” jelasnya.

Adapun perwakilan NAFAS, Syamsul Khamal saat bertemu Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani di Pendopo Sabha Swagata Blambangan mengungkapkan, pihaknya sangat tertarik ingin belajar teknologi pertanian di Banyuwangi. Karena menurutnya, pertanian di Bumi Osing cukup berhasil. Hal itu terbukti bisa memproduksi padi hingga 4 kali dalam setahun.

“Pertanian di Banyuwangi luar biasa bisa panen hingga 4 kali dalam setahn. Sementara di Malaysia, kami baru mencoba 5 kali dalam 2 tahun,” turur Syamsul Khamal penuh kagum.

Diejlaskan pula, NAFAS merupakan gabungan seluruh koperasi petani nasional di negeri jiran Malaysia. NAFAS bertanggungjawab atas subsidi input pada komoditas padi di seluruh Malaysia. Sehingga dalam tim turut hadir, di antaranya Dato’ Haji Ismail (chairman), Datuk Haji Mohammad Rosli, Datuk Hajah Azlinda, Sirojudin Al Amin (assisten manager), dan Abdul Khaliq (assisstant manager for ladang).

“Oleh karenanya, kami secara khusus ingin mempelajari varietas padi dengan produktivitas tinggi. Salah satunya adalah varietas Indeks Pertanaman (IP) 400 yang dikembangkan oleh Kementerian Pertanian (Kementan) RI. Padi ini banyak ditanam di Banyuwangi,” ujar Syamsul di hadapan Bupati Ipuk.

Syamsul mengakui kelebihan varietas ini adalah memiliki waktu panen yang lebih cepat, antara 70-100 Hari Setelah Sebar (HSS). Tentu saja hal ini jauh lebih cepat dibanding varietas padi biasa, yang baru bisa panen pada usia 110-120 HSS.

“Tentu saja kami ingin mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi keberhasilan IP 400 ini di Banyuwangi ini. Semoga varietas ini cocok dengan kondisi di Malaysia, bisa meningkatkan produktivitas pertanian kami menjadi 4 kali dalam setahun seperti Banyuwangi,” pungkasnya. (Tim Dhuta Ekspresi)

Simak juga tayangan menarika lainnya: “Pengembalian Memori Yang Hilang Akibat Stroke dengan Metode Hipnoterapi”. Simak selengkapnya tautan dibawah ini:

banner 728x90

Related posts

banner 400x130

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *